Alhamdulillah
Tawakal harus mencakup dua perkara;
Pertama, bersandar kepada Allah dan meyakini bahwa Dia merupakan sumber
segala sebab serta meyakini bahwa kekuasaan-Nya akan terlaksana dan Dialah
yang telah menetapkan segala perkara, mengatur dan mencatatnya.
Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk menggugurkan sebab. Bahkan,
seseorang tidak dikatakan bertawakal sesungguhnya sebelum dia mengambil
sebab. Karena itu, disyariatkan menikah untuk mendapatkan anak dan
diperintahkan berjimak. Seandainya seseorang berkata, "Saya tidak menikah
dan sedang menunggu kehadiran seorang anak tanpa pernikahan" niscaya dia
akan dianggap gila, sebab itu bukan sikap orang berakal. Demikian pula
seseorang tidak duduk di rumah atau di masjid sambil berharap sadaqah atau
rizki datang menghampirinya. Hendaknya dia berusaha dan bekerja serta
bersungguh-sungguh dalam mencari rizki.
Maryam rahmatullah alaiha tidak meninggalkan sebab.
Allah Ta'ala telah
berkata kepadanya,
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
(سورة مريم: 25)
"Dan goyanglah
pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah
kurma yang masak kepadamu." (QS. Maryam: 25)
Dia menggoyangkan
pohon korma itu, berarti dia telah mengambil sebab agar korma muda (ruthob)
berjatuhan. Perbuatannya itu bukan perbuatan seorang yang meninggalkan
sebab. Adapun adanya rizki di sisinya dan bahwa Allah telah memuliakannya
dengan memberinya rizki tidak menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak
menggunakan sebab, justeru dia beribadah dan mengambil sebab serta bekerja
dengan menggunakan sebab.
Jika dikisahkan
adanya karomah yang terjadi pada sebagian wali Allah dari kalangan orang
beriman, itu semata merupakan karunai dari Allah Ta'ala, akan tetapi itu
bukan berarti menggugurkan sebab. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
telah memerintahkan,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ (رواه
مسلم، رقم 2664 )
"Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah
pertolongan kepada Allah serta janganlah lemah." (HR. Muslim, no. 2664)
Allah Ta'ala
berfirman,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (سورة الفاتحة: 5)
"Hanya kepada-Mu
kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan." (QS Al-Fatihah:
5)
Syekh Abdul Aziz
bin Baz, rahimahullah.