Alhamdulillah
Pertama, yang diwajibkan kepada
kita adalah mengenal aqidah Ahlussunah wal jamaah dalam hal nama dan
sifat-Nya. Aqidah Ahlussunnah wal jamaah adalah menetapkan apa yang telah
Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam hal nama dan sifat, tanpa merubah,
menggugurkan, menggambarkan bagaimananya dan menyerupakan. Mereka meyakini
apa yang telah Allah perintahkan untuk diyakini. Allah Ta'ala berfirman,
ليس كمثله شيء وهو
السميع البصير
"Tidak ada sesuatupun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat." (QS.
Asy-Syura: 11)
Allah Ta'ala telah memberitahukan kepada kita
tentang diri-Nya. Dia berfirman,
إِنَّ رَبَّكُمْ
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ
اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ (سورة الأعراف: 54)
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang
telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di
atas 'Arsy." (QS. Al-A'raf: 54)
Dia juga berfirman,
الرَّحْمَنُ عَلَى
الْعَرْشِ اسْتَوَى (سورة طه: 5)
" (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang
bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5)
Dan ayat lainnya yang didalamnya disebutkan
istiwa (bersemayam)nya Allah Ta'ala di atas Arasy-Nya.
Istiwanya Allah Ta'ala di atas Arasynya
adalah menunjukkan ketinggian dzatnya, yaitu ketinggian yang khusus sesuai
dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak diketahui caranya selain Dia.
Terdapat riwayat dalam sunah yang shahih,
dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Allah Ta'ala turun dalam
sepertiga malam terakhir.
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
يَنْزِلُ رَبُّنَا
تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ
يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ
لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه
البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262) .
"Tuhan kita Tabaaraka wa Ta'ala turun pada
setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir. Lalu dia
berkata, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang
memohon kepadaku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang meminta ampun
kepada-Ku, niscaya akan aku ampuni." (HR. Bukhari, Kitab Tauhid, no. 6940,
Muslim, Shalatul Musafirin, no. 1262)
'النزول'
(turun) menurut Ahlussunnah artinya adalah, bahwa Allah Ta'ala turun dengan
dzat-Nya ke langit dunia secara hakiki namun sesuai dengan kebesaran-Nya,
dan tidak ada yang mengetahui caranya selain Dia.
Akan tetapi, apakah turunnya Allah Azza wa
Jalla berarti dia harus meninggalkan Arasy-Nya atau tidak? Syekh Ibnu
Utsaimin berkata terkait soal seperti itu, "Kami katakan bahwa soal seperti
ini sebenarnya soal yang berlebih-lebihan dan tidak layak disampaikan.
Karena kita dapat balik bertanya, 'Apakah anda lebih bersungguh-sungguh dari
para shahabat dalam memahami sifat Allah?' Jika dia mengatakan, 'Ya', maka
sungguh dia telah dusta. Jika dia katakan, 'Tidak' maka kita katakan,
'Bersikaplah lapang seperti mereka bersikap lapang, mereka tidak menanyakan
kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, misalnya dengan berkata,
'Wahai Rasulullah, jika Dia turun, apakah berarti Dia meninggalkan
Arasy-Nya?' Untuk apa anda bertanya seperti ini. Katakan saja 'Dia turun'
lalu diam, apakah Dia meninggalkan Arasy-Nya atau tidak, itu bukan urusan
anda. Anda hanya diperintahkan untuk membenarkan kabar yang disampaikan,
khususnya yang berurusan dengan dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Karena ini
adalah perkara di luar kemampuan akal."
(Majmu Fatawa Syekh Muhammad Al-Utsaimin,
1/204-205)
Syaikhul Islam (Ibnu Taimiah) rahimahullah
berkata tentang masalah ini, "Yang benar adalah bahwa Dia turun dan tidak
meninggalkan Arasy-Nya. Ruh
seorang hamba di tubuhnya di waktu siang dan malam hingga dia mati,
sementara kalau dia tidur, ruhnya diangkat.... hingga beliau berkata, 'Malam
itu berbeda, sepertiga malam di negeri timur sebelum sepertiga malam di
negeri barat, maka turunnya Dia sebagaimana dikabarkan oleh Rasulul-Nya ke
langit mereka adalah pada sepertiga malam mereka, sedangkan pada langit
mereka yang lainnya pada sepertiga malam mereka yang lainnya. Dia tidak
terpengaruh oleh keadaan...." (Majmu Fatawa Ibnu Taimiah, 5/132)
Istiwa (bersemayam) dan
nuzul (turun) merupakan sifat fi'liyah (kerja) yang terkait dengan kehendak
Allah. Ahlussunnah wal jamaah beriman dengan hal itu. Akan tetapi dalam
mengimani ini mereka menghindari dari penyerupaan dan menyatakan caranya.
Maksudnya tidak mungkin terbetik dalam jiwa mereka bahwa turunnya Allah
seperti turunnya makhluk dan bersemayamnya Dia di Arasy seperti
bersemayamnya makhluk. Karena mereka beriman bahwa Allah Ta'ala tidak serupa
sedikitpun dengan makhluk dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.
Berdasarkan akal saja telah dapat diketahui perbedaan yang besar antara
dzat, sifat dan perbuatan, tidak mungkin terbetik dalam hati mereka
bagaimana Dia turun? Dan bagaimana dia bersemayam di atas Arasy? Maksudnya
adalah bahwa Ahlussunnah tidak memperkirakan bagaimana sifat-sifat-Nya
meskipun mereka yakin ada caranya dan hanya Allah Ta'ala saja yang
mengetahuinya. Maka ketika itu, tidak mungkin digambarkan bagaimana caranya.
Kita mengetahui dengan
yakin bahwa apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah nabinya shallallahu
alaihi wa sallam adalah hak dan tidak bertentangan satu sama lain,
berdasarkan firman Allah Ta'ala,
أفلا
يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً (سورة
النساء: 82)
"Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al
Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."
(QS. An-Nisa: 82)
Karena jika terjadi
pertentangan dalam kabar yang disampaikan berarti kabar tersebut satu sama
lain saling mendustaka. Ini mustahil bagi kabar yang disampaikan dari Allah
dan rasul-Nya.
Siapa yang mengira adanya
petentangan dalam Kitabullah dan sunah rasul-Nya shallallahu alaihi wa
sallam atau di antara keduanya, apakah karena kurang ilmu, atau pemahaman
terbatas atau kurang dalam pemahaman, maka hendaklah dia menuntut ilmu lagi
dan bersungguh-sungguh mendalaminya agar jelas baginya kebenaran. Jika belum
jelas baginya kebenaran, maka limpahkan masalah ini kepada orang yang pandai
dan dia berhenti mengira-ngira, lalu selebihnya dia berkata seperti
orang-orang yang telah mendalam ilmunya,
آمنا
به كل من عند ربنا (سورة آل عمران: 7)
"Kami beriman kepada ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."
(QS. Ali Imran: 7)
Hendaknya dia mengetahui
bahwa Al-Quran dan Sunah tidak bertentangan di antara keduanya.
Wallahua'lam.
(Lihat Fatawa Ibnu
Utsaimin, 3/237-238)
Persangkaan adanya
pertentangan antara turunnya Allah ke langit dunia dengan bersemayamnya Dia
di Arasy dan ketinggiannya di langit bersumber dari adanya perbandingan
antara khalik dan makhluk. Jika seorang manusia tidak dapat menggambarkan
dengan akalnya perkara-perkara gaib di antara makhluk-Nya seperti kenikmatan
surga, maka bagaimana dia dapat menggambarkan Sang Khalik Azza wa Jalla yang
Maha Gaib. Maka cukup bagi kita beriman bahwa bersemayam, turun dan tinggi
merupakan sifat Allah dan kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan
kebesaran-Nya.".