Alhamdulillah.
Pendidikan anak
merupakan kewajiban orang tua. Allah Ta'ala
telah memerintahkan dalam Al-Quran, begitupula Rasululllah shallallahu alaihi wa
sallam dalam haditsnya.
Firman Allah Ta'ala,
يا أيها الذين آمنوا
قوا أنفسكم وأهليكم
ناراً
وقودها
الناس
والحجارة
عليها
ملائكة
غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم
ويفعلون
ما يؤمرون (سورة التحريم:
6)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim: 6)
Imam Ath-Thabari dalam
tafsirnya tentang ayat ini berkata,
"Wahai orang yang benar
keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, 'Peliharalah diri kalian,' Hendaklah satu sama lain saling
mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung dan terhindar dari neraka, yaitu apabila
mereka beramal dalam ketaatan kepada Allah. Sedangkan firman-Nya 'Dan (lindungi)
keluarga kalian dari neraka.' Maksudnya adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi mereka dari api neraka.
(Tafsir Ath-Thabari,
28/165)
Al-Qurthubi berkata,
"Muqatil berkata, ini merupakan
hak yang menjadi kewajiban terhadap dirinya, anaknya, keluarganya dan budaknya. Ilkia berkata, 'Kita wajib mengajakan agama dan kebaikan terhadap anak-anak kita, atau adab apa
saja yang tidak dapat mereka tinggalkan.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وأْمُر أهلك بالصلاة واصطبر
عليها (سورة طه: 132)
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya."
(QS. Thaha: 132)
Atau juga sebagaimana firman Allah Ta'ala kepada Nabi shallallahu
alaihi wa
sallam,
وأنذر عشيرتك
الأقربين
(سورة الشعراء: 214)
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS.
Asy-Syuara: 214)
Juga terdapat dalam hadits
مروهم بالصلاة
وهم أبناء سبع
"Perintahkan
mereka (anak-anak kalian) untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh
tahun."
(Tafsir Al-Qurthubi,
18/196)
Seorang muslim, siapapun
dia, adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta'ala, maka jadikanlah
orang yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya,
kemudian orang-orang berikutnya. Allah Ta'ala, saat menugaskan Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya,
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS.
Asy-Syuara: 214), karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan
kebaikan dan kasih sayangnya.
وجعل الرسول
صلى الله عليه وسلم مسؤولية
رعاية
الأولاد
على الوالدين وطالبهم
بذلك :
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam
juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan menuntut mereka
untuk itu.
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" كلكم راع وكلكم مسئول
عن رعيته الإمام
راع ومسئول عن رعيته والرجل
راع في أهله وهو مسئول
عن رعيته والمرأة
راعية
في بيت زوجها
ومسئولة
عن رعيتها والخادم
راع في مال سيده ومسئول
عن رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول
عن رعيته وكلكم
راع ومسئول عن رعيته " . رواه البخاري
( 853 ) ومسلم ( 1829 )
"Semua kalian
adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin.
Kepala negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya,
seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang
dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap
harta masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah
mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya" (HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829)
Di antara kewajiban anda
menumbuhkan sejak dini kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta mencintai
ajaran Islam. Hendaknya anda kabarkan bahwa
Allah memiliki neraka dan surga. Neraka Allah sangat
panas, bahan bakarnya dari manusia
dan batu.
Berikut ini sebuah kisah
yang memiliki pelajaran;
Ibnu Al-Jauzi berkata,
"Ada seorang raja
yang memiliki banyak harta. Dia memiliki anak tunggal wanita, tidak ada lagi
anak selainnya, karenanya dia sangat mencintainya dan sangat memanjakannya
dengan berbagai mainan. Hal tersebut berlangsung sekian lama. Suatu saat ada
seorang ahli ibadah yang bermalam di rumah sang raja. Maka di malam hari dia
membaca Al-Quran dengan suara keras, dia membaca, "Wahai orang beriman,
peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka, bahan bakarnya dari
manusia dan batu." Sang puteri mendengar bacaannya, lalu dia berkata
kepada para pembantunya, 'Hentikan dia.' Tapi para pembantunya tidak
menghentikannya sehingga orang tersebut terus mengulang-ulang bacanya. Maka dia
masukkan tangannya ke bajunya dan merobeknya. Lalu para pembantunya melaporkan
kejadian tersebut kepada sang bapak. Maka sang bapak menemuinya seraya berkata
dan memeluknya, "Apa yang engkau alami malam ini anakku sayang." Sang anak berkata, "Aku bertanya
kepadamu demi Allah wahai ayah, apakah Allah Azza wa Jalla memiliki neraka yang
bahan bakarnya manusia dan batu?" Dia berkata, "Ya," Maka sang
anak berkata, "Apa yang menghalangimu untuk memberitahu aku hal ini. Demi
Allah, aku tidak akan memakan makanan lezat dan tidur di tempat yang empuk
sebelum aku mengetahui dimana tempatku, di surga atau neraka."
(Shofwatu Ash-Shafwah,
4/437-438)
Selayaknya anda
menjauhkan mereka dari tempat-tempat keburukan dan kelalaian. Jangan biarkan
mereka dididik dengan cara yang buruk, baik melalui televisi atau selainnya dan
kemudian anda mengharapkan kesalehannya. Orang yang menanam duri tidak akan
memanen anggur. Hendaknya pendidikan tersebut telah ditanam sejak kecil agar
mudah baginya ketika dia sudah besar untuk memerintah dan melarangnya, dan
mudah baginya untuk mentaati anda.
Dari Abdullah bin Amr
bin Ash radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallah alaihi wa sallam
bersabda, "Perintahkan anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia
tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila berusia sepuluh tahun, lalu pisahkan
ranjang di antara mereka." (HR.
Abu Daud, no. 495, dishahihkan
oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 5868)
Akan tetapi hendaknya
bagi pendidik untuk bersikap lembut dan santun, memudahkan dan akrab, tidak
berkata kasar, berlaku keras dan mendiskusikan dengan cara yang baik. Hindari
celaan dan caci maki hingga pukulan. Kecuali jika sang anak durhaka dan
menganggap remeh perintah bapaknya, meninggalkan perkara yang diwajibkan dan
melakukan perkara yang diharamkan. Ketika itu diutamakan bersikap namun tidak
sampai menimbulkan bahaya.
Al-Manawi berkata,
"Seseorang yang mendidik
anaknya ketika dia berusia balig
dan telah berakal dengan pendidikan yang dapat mengantarkannya pada akhlak orang-orang saleh dan melindunginya agar tidak bergaul dengan
orang-orang rusak, kemudian
mengajarkannya Al-Quran, adab,
bahasa Arab, kemudian dia memperdengarkan sang anak kisah-kisah dan ucapan para
salaf, lalu mengajarkannya ajaran agama yang tidak boleh ditinggalkan,
kemudian dia mengancam memukulnya apabila sang anak tidak shalat, semua
itu lebih baik baginya daripada
dia bersadaqah satu sha'. Karena
jika dia mendidiknya, maka perbuatannya termasuk shadaqah jariyah, sementara sadaqah satu sha', pahalanya
akan terputus.
Sementara yang pertama
tetap terus mengalir selama sang anak masih ada. Dan adab adalah makanan jiwa
dan pendidikannya untuk akhirat kelak ‘Jagalah diri kamu semua dan keluargamu
dari api neraka.’ SQ. At-Tahrim: 6.
Penjagaan anda dan anak
anda diantaranya dengan menashati dan mengingatkan api neraka. Meluruskan
adabnya dengan berbagai macam pendidikan. Diantara adanya adalah memberi
nasehat, hukuman, ancaman, pukulan, menyendirikan, memberikan pemberian, hadian
dan kebaikan. Sehingga pendidikan jiwa agar menjadi (jiwa) yang bersih dan
mulia bukan mendidik jiwa yang tidak disuka lagi tercela. ‘Faidul Qadir,
5/257.’
Pukulan hanyalah sarana agar anak istiqamah, dia bukan merupakan
tujuan, akan
tetapi hanya digunakan jika sang anak terus menerus
membandel dan menentangnya.
Syariat telah menetapkan peraturan sanksi dalam Islam, dan hal itu
banyak dalam Islam, seperti hukum zina,
mencuri, menuduh berzina (tanpa bukti) dan sebagainya. Semuanya itu disyariatkan
agar manusia istiqamah dan menghindari perbuatan buruk.
Dalam hal inilah Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam
berpesan untuk mengajarkan seorang bapak agar anak menurutinya.
Dari Ibnu Abbas, dari
Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
" علقوا
السوط حيث يراه أهل البيت ، فإنه أدب لهم " . رواه الطبراني ( 10 / 248 ) . والحديث : حسّن إسنادَه الهيثمي في " مجمع
الزوائد " ( 8 / 106 ) .
"Gantungkan pecut di tempat yang dapat dilihat keluarga,
karena itu merupakan pendidik bagi mereka." (HR. Thabrani, 10/248)
Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma Zawaid
(8/106) Al-Albany menyatakan dalam
shahih Al-Jami, no. 4022, hadits
ini hasan.
Pendidikan anak hendaknya
berimbang antara anjuran dan peringatan. Yang lebih penting dari itu semua
adalah memperbaiki lingkungan tempat anak tinggal dengan mewujudkan sebab-sebab
hidayah bagi mereka, yaitu dengan komitmennya pendidik dan pengasuh mereka yang
tak lain adalah kedua orang tua mereka.
Diantara metoda sukses
para pendidik dalam mendidik anaknya adalah dengan mempergunakan alat rekaman
untuk mendengarkan nasehat, kaset Al-Qur’an, khutbah, pelajaran para ulama’
dimana hal banyak sekali.
Adapun buku-buku yang
anda tanyakan untuk dijadikan referensi dalam mendidik anak, maka kami
rekomendasikan beberapa buku berikut;
1-
Tarbiyatul Athfal Fi Rihabil Islam
(Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhammad Nashir dan Khaulah Abdul Qadir
Darwisy.
2-
Kaifa Yurabbi Al-Muslim Waladahu (Bagaimana
Seorang Muslim Mendidik Anaknya), karangan Muhammad Said Al-Maulawi)
3-
Tabiyaul Abna
Fil Islam (Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhamad Jamil Zainu.
4-
Kaifa Nurabbi Athfaalana (Bagaimana Kita
Mendidik Anak-anak Kita), karangan Mahmud Mahdi Al-Istambuli.
Wallahua'lam.