Alhamdulillah
Pertama,
روى البخاري (7294)
– واللفظ له – ومسلم (2359)
عن أَنَس بْن مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ حِينَ زَاغَتْ الشَّمْسُ فَصَلَّى الظُّهْرَ
فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَذَكَرَ السَّاعَةَ وَذَكَرَ أَنَّ
بَيْنَ يَدَيْهَا أُمُورًا عِظَامًا ثُمَّ قَالَ : ( مَنْ أَحَبَّ أَنْ
يَسْأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَلْيَسْأَلْ عَنْهُ فَوَاللَّهِ لَا تَسْأَلُونِي عَنْ
شَيْءٍ إِلَّا أَخْبَرْتُكُمْ بِهِ مَا دُمْتُ فِي مَقَامِي هَذَا ) قَالَ
أَنَسٌ : فَأَكْثَرَ النَّاسُ الْبُكَاءَ وَأَكْثَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقُولَ سَلُونِي فَقَالَ أَنَسٌ : فَقَامَ
إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ أَيْنَ مَدْخَلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ
النَّارُ . فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُذَافَةَ فَقَالَ مَنْ أَبِي يَا
رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ . قَالَ ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ
يَقُولَ سَلُونِي سَلُونِي ، فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ :
رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا . قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالَ عُمَرُ ذَلِكَ . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
لَقَدْ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرْضِ هَذَا
الْحَائِطِ وَأَنَا أُصَلِّي فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ
)
“Diriwayatkan oleh Bukhori,
7294 dan teks darinya. Muslim, 2359 dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu
sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam keluar ketika matahari
condong, dan beliau menunaikan shalat Zuhur. Ketika salam, beliau berdiri di
atas mimbar, menceritakan kiamat. Dan disebutkan diantaranya ada urusan yang
sangat agung. Kemudian beliau berkata, ‘Barangsiapa yang ingin bertanya
tentang sesuatu, maka bertanyalah. Demi Allah, tidaklah seseorang bertanya
kepadaku tentang sesuatu kecuali saya akan beritahukan selagi saya di
tempatku ini.’ Anas berkata, ‘Orang-orang banyak yang menangis, sementara
Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam terus mengatakan, ‘Bertanyalah
kepadaku. Anas berkata, ‘Seseorang berdiri dan bertanya, ‘Dimana tempat
masukku wahai Rasulullah? (beliau menjawab); ‘Di neraka. Abdullah bin
Khuzafah berdiri dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapa ayahku? Beliau
menjawab, ‘Ayahmu adalah Khuzafah. (Anas) mengatakan, ‘Beliau sering kali
mengatakan bertanyalah kepadaku, bertanyalah kepadaku. Umar menaruh kedua
kakinya dan mengatakan, ‘Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama,
Muhammad sallallahu’alaihi wa sallam sebagai Rasul. (Anas) mengatakan,
‘Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam diam setelah ucapan Umar itu.
kemudian Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Demi jiwaku yang
ada ditangan-Nya. Sungguh saya diperlihatkan surga dan neraka barusan di
depan tembok sementara saya dalam kondisi shalat. Dan saya tidak melihat
seperti hari ini kebaikan dan kejelakan.’
Sementara nama orang yang
bertanya tentang tempat masuknya, Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
‘Di neraka.’ Al-hafidz Ibnu Hajar rahimahullah telah berkata, ‘Saya tidak
mendapatkan nama orang sediktipun dari berbagai jalan (hadits). Seakan-akan
mereka menyembunyikan secara sengaja untuk menutupinya. Dalam Tobroni dari
hadits Abu Firas Al-Aslami seperti itu dan ada tambahan, ‘Dan seseorang
bertanya, apakah saya di surga? Beliau menjawab, ‘Di surga.’ Saya tidak
mengetahui nama orang lain ini.’ Selesai.
Meskipun begitu tidak ada
kemaslahatan bagi seorang hamba mengetahui penentuan nama penanya ini. Tidak
juga merusak agamanya kalau tidak tahu. Oleh karena itu para rawi hadits
tidak memperhatikan dengan penentuan (namanya) itu.
Kedua,
Sementara tentang masuknya
penanya ke dalam neraka, padahal beliau adalah shahabat. Itu ada tiga sisi
(alasan).
Pertama, kemungkinan dia
termasuk orang-orang munafik. Sehingga Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya
akan kondisinya. Dahulu pada zaman Nabi sallallahu’alaihi wa sallam beberapa
orang munafik, shalat, berpuasa dan beribadah kepada Allah bersama beliau
dalam kondisi (tampilan) fisik. Padahal hakekatnya termasuk orang munafik.
Allah Ta’ala berfirman:
(
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ
الأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى
النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ
ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ ) التوبة/
101
“Di
antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang
munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam
kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah
yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian
mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
SQ. At-Taubah: 101.
Kedua, kemungkinan masuknya ke neraka
dikarenakan dosanya. Kemudian Allah selamatkan darinya dan dimasukkan ke
surga dengan keutamaan dan rahmat Allah.
Ketiga, kemungkinan maknanya adalah dia akan
di neraka kalau Allah tidak memafkannya. Maka dia termasuk dalam masyiah
(keinginan Allah). dua kemungkinan terakhit itu lebih nampak (kuat). Hal ini
sesuai dengan kaidah ahlu sunnah terkait pelaku dosa dari kalangan ahli
tauhid.
وقد روى البخاري (3074)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما قَالَ : كَانَ عَلَى ثَقَلِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (الثقل : ما يثقل حمله من
الأمتعة) رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ كِرْكِرَةُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( هُوَ فِي النَّارِ ) فَذَهَبُوا
يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا
114)
ورواه مسلم بمعناه من حديث عمر رضي الله عنه
Telah diriwayatkan Bukhori, 3074 dari
Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma berkata, ‘Dahulu ada barang yang
memberatkan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam (kata ‘at-tsaqal adalah apa
yang memberatkan bawaan dari barang) seseorang dikatakan dia adalah Kirkirah
kemudian dia mati. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mengatakan,
‘Dia di neraka. Kemudian mereka pergi melihatnya, didapati pakaian yang
dicuri (disembunyikan) dari ghonimah.’ HR. Muslim, 114. Dengan semaknanya
dari hadits Umar radhiallahu’anhu.
Al-Hafidz rahimahullah berkata, ‘Ungkapan
‘Dia di neraka’ yakni disiksa dikarenakan kemaksiatannya. Atau maksud di
neraka kalau sekiranya Allah tidak memaafkannya.’ Selesai
Ketiga,
Para shahabat adalah manusia diantara
manusia, diantara mereka ada yang berdosa dan salah. Akan tetapi secara umum
mereka makhluk lebih mulia setelah para nabi dan para rasul. Mereka adalah
generasi terbaik. Semuanya terpercaya, adil menurut kesepakatan umat Islam.
Akan tetapi sepekat, mereka –juga- tidak maksum (terjaga) dari berbuat
dosa. Dan apa yang ada sebagian individu melakukan dosa atau mendapatkan
ancaman, maka seharusnya berbaik sangka akan hal itu. dan telah diketahui
bahwa hal itu tidak mengeluarkan devinisi adil dan redo. Bahkan Abu Muhammad
bin Hazm rahimahullah mengatakan, ‘Para shahabat semuanya termasuk penduduk
surga secara pasti. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak
sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum
penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada
masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan.” SQ. Al-Hadid: 10.
Dan firmanNYa:
(
إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ
مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ ) الأنبياء/ 101
.
“Bahwasanya
orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami,
mereka itu dijauhkan dari neraka,” SQ.
Al-Anbiya’: 101.
Maka telah ada ketetapan bahwa semuanya
termasuk penduduk surga. Selesai
Hal itu dinukilkan oleh Amir As-Son’any di
kitab ‘Taudhihul Afkar Lima’ani Tanqih AL-Andhor,2/245.
Yang kami nasehatkan, hendaknya tidak perlu
memasuki seperti dalam permasalahan ini, bahkan menghormati orang baik
dengan kehormatannya. Kami menyaksikan mereka dengan kebaikan dan
kesholehan. Dan kita menahan membahasnya mereka tanpa ada ilmu. Dan kita
menyibukkan untuk diri kita. Silahkan merujuk soal jawab no.
13713.
Wallahu’alam.