Alhamdulillah
Pertama:
Allah Ta'ala menyatakan bahwa dirinya adalah 'Sebaik-baik pemberi rizki'
dalam lima tempat, yaitu dalam surat Al-Maidah: 114, Al-Hajj: 58,
Al-Mukminun: 72, Saba': 39, Al-Jumu'ah: 11.
Kedua:
Tidak ada larangan
untuk memberikan sifat 'memberi rizki' kepada Allah Tuhan semesta alam dan
kepada para makhluk. Sebagaimana firman Allah Ta'ala
وَعَلَى
الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ (سورة البقرة: 233)
"Dan kewajiban
ayah memberi Makan." (QS. Al-Baqarah: 233)
Firman Allah:
وَلا تُؤْتُوا
السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَاماً
وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (سورة
النساء: 5)
"Dan janganlah
kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka
yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.
berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah
kepada mereka kata-kata yang baik." (QS. An-Nisa: 5)
وَإِذَا حَضَرَ
الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ
مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوفاً (سورة النساء: 8)
"Dan apabila
sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, Maka
berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka
Perkataan yang baik." (QS. An-Nisa: 8)
Karena itu, anda
akan dapatkan makna ar-razik dalam kitab-kitab tafsir dengan maksud:
'Penguasa', 'tuan', 'bapak' dan 'kerabat yang dekat'.
Perkara ini tidak masalah menuruat para ulama. Karena kita meyakini
perbedaan antara hamba yang memberi rizki dan Allah yang memberi rizki,
perbedaan antara makhluk dan khaliq, yang beribadah dengan yang diibadahi.
Perkara ini juga sama seperti sifat ilmu yang Allah nyatakan terhadap
diri-Nya dan juga Allah berikan terhadap hamba-Nya. Tapi ilmu sang hamba
didahului oleh kebodohan dan diikuti sifat lupa. Adapun Allah Ta'ala, tidak
sesat dan tidak lupa. Begitu pula, Allah Ta'ala sebagaimana memberikan sifat
'pencipta' kepada diri-Nya, dia juga memberikan sifat 'pencipta' kepada
hamba-Nya. Akan tetapi, penciptaan hamba, bukan berasal dari tidak ada, akan
tetapi hanya merubah dari suatu benda kepada benda lainnya, ini berarti
penciptaan yang kurang sebagaimana manusia bersifat kurang dan terbatas
sebagaimana terbatasnya pemahaman mereka serta mengundang kemungkinan binasa
sebagaimana kemungkinan binasa pada mereka. Lihat jawaban tuntas dalam
masalah ini pada soal no. 149122.
Ketiga:
Dengan sedikit
perenungan antara rizki Allah Ta'ala terhadap hamba-Nya dan rizki sang hamba
(terhadap yang lainnnya) akan tampak dengan jelas perbedaan yang besar.
Dengan demikian diketahui bahwa diberikannya sifat dan perbuatan 'rizki'
bagi manusia sesuai dengan keadaan yang cocok bagi mereka, seperti fakir,
lemah, membutuhkan dan binasa.
Di
antara perbedaan-perbedaan tersebut adalah:
1-
Rizki Allah tidak akan habis, adapun rizki manusia, betatapun
besarnya akhirnya akan habis juga.
Allah Ta'ala berfirman,
مَا عِنْدَكُمْ
يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ (سورة النحل: 96)
"Apa yang di
sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal." (QS.
An-Nahl: 96)
2- Rizki Allah
tidak terputus terhadap orang kafir atau durhaka, sedangkan seorang hamba
biasanya tidak memberikan rizki kepada orang yang berbeda pandangan
dengannya, apalagi orang yang mengingkari dan mencacinya.
Allah Ta'ala
berfirman,
وَإِذْ قَالَ
إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ
الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ
كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (سورة البقرة: 126)
"Dan (ingatlah),
ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman
sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang
beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:
"Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku
paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali."
(QS. Al-Baqarah: 126)
Dari Abdullah bin
Qais, Abu Musa Al-Asy'ari, dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
مَا أَحَدٌ
أَصْبَرَ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ
لَهُ نِدًّا وَيَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يَرْزُقُهُمْ
وَيُعَافِيهِمْ وَيُعْطِيهِمْ (رواه مسلم، رقم 2804 )
"Tidak ada yang paling sabar menghadapi gangguan selain Allah Ta'ala. Mereka
menetapkan sekutu dan anak bagi-Nya. Namun demikian, Dia tetap memberi
mereka rizki, memaafkan mereka dan memberi mereka." (HR. Muslim, no. 2804)
Allah Ta'ala berfirman,
كُلاًّ نُمِدُّ
هَؤُلاء وَهَؤُلاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ
مَحْظُوراً (سورة الإسراء: 20)
"Kepada
masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan
bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat
dihalangi." (QS. Al-Isra: 20)
Al-Hasan Al-Basri
rahimahullah berkata, "Semua golongan kami berikan kebaikan dunia, baik
mereka yang taat maupun yang durhaka." (Tafsir Ath-Thabari, 17/411)
3- Rizki Allah
berlaku di dunia dan akhirat, sedangkan rizki sang hamba terbatas pada
bagian kecil di dunia saja.
Allah Ta'ala
berfirman,
وَبَشِّرِ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقاً
قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهاً
وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (سورة
البقرة: 25) .
"Dan sampaikanlah
berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi
mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka
mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka
diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada
isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 25)
4- Rizki Allah
berlaku kepada seluruh makhluk-Nya termasuk kepada binatang.
Sedangkan sang hamba tidak mampu melakukan hal itu betapapun banyaknya harta
mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَا مِنْ
دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ
مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (سورة هود: 6)
"Dan tidak ada
suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya.
semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Hud: 6)
Dia juga
berfirman,
وَكَأَيِّن مِنْ
دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (سورة العنكبوت: 60)
"Dan berapa banyak
binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah
yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha mendengar lagi Maha
mengetahui." (QS. Al-Ankabut: 60)
5- Rizki Allah
adalah makhluk yang asalnya tidak ada, seperti hujan, emas dan buah,
sebelumnya tidak berada di tangan selainnya tanpa diragukan lagi. Sedangkan
rizki hamba merupakan warisan dari orang sebelumnya dan telah
berpindah-pindah tangan. Mereka tidak menciptakan sesuatu yang asalnya tidak
ada, dan lebih dari itu semuanya bersumber dari perbendaharaan Allah serta
pemberian-Nya kepada hamba-Nya.
Allah Ta'ala
berfirman,
أَمْ جَعَلُوا
لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (سورة الرعد: 16)
"Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan
mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan
yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Ankabut: 16)
Allah Ta'ala juga berfirman,
أَفَرَأَيْتُمُ
الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ . أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ
أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (سورة الواقعة: 68 ، 69)
"Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya?" (QS. Al-Waqiah: 68-69)
6-
Rizki Allah Ta'ala milik-Nya tidak ada seorang pun yang bersekutu dengan-Nya
dalam hal ini. Sedangkan rizki hamba adalah milik yang Allah berikan
kepadanya, seandainya Allah tidak tundukkan baginya segala sebab-sebabnya,
niscaya dia tidak dapat memilikinya.
Allah Ta'ala
berfirman,
وَيَعْبُدُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقاً مِنَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ شَيْئاً وَلا يَسْتَطِيعُونَ (سورة النحل: 7)
"Dan mereka
menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada
mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit
juapun)." (QS. An-Nahl: 7)
Allah Taala
berfirman,
وَآتُوهُمْ مِنْ
مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ (سورة النور: 33)
"Dan berikanlah
kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu."
(QS. An-Nur: 33)
وَأَنْفِقُوا
مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ (سورة الحديد: 7)
"Ddan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya." (QS.
Al-Hadid: 7)
وَالَّذِينَ
تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (سورة فاطر: 13)
"Dan orang-orang
yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun
setipis kulit ari." (QS. Fathir: 13)
6- Rizki Allah
bersumber dari kesempurnan-Nya, keagungan dan kasih sayang-Nya. Sedangkan
rizki makhluk adalah karena menunaikan kewajiban, atau meraih pujian, atau
mengharap pahala. Seandainya manusia memiliki gudang rizki, niscaya dia akan
bakhil untuk memberi
Allah Ta'ala
berfirman,
قُلْ لَوْ
أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذاً لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ
الْأِنْفَاقِ وَكَانَ الْأِنْسَانُ قَتُوراً (سورة الإسراء: 100)
"Katakanlah:
"Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat
Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut
membelanjakannya". dan adalah manusia itu sangat kikir." (QS. Al-Isra: 100)
7- Rizki Allah
bersifat materi dan maknawi. Dia memberi rizki kepada makhluk berupa hujan,
buah, dan memberi rizki kepada mereka berupa iman, sikap menerima,
kebahagiaan. Jika seorang hamba memiliki sebagian rizki, tapi dari mana dia
dapat memberikan rizki kepada selainnya dalam bentuk maknawi?!
Allah Ta'ala
berfirman,
زُيِّنَ
لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ
آمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ
يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (سورة آل عمران: 212)
"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang
bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi
rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. Ali Imran:
212)
Syekh Abdurrahman As-Sa'dy rahimahullah berkata, Allah Ta'ala berfirman,
وَاللَّهُ
يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Dan
Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas."
(QS. Ali Imran: 212)
Rizki duniawi dapat diraih oleh orang beriman dan orang kafir, adapun rizki
terhadap hati, berupa ilmu, iman, cinta kepada Allah, takut dan harap
kepada-Nya dan semacamnya, tidak akan Dia berikan kecuali kepada siapa yang
dicintai." (Tafsir As-Sa'dy, hal. 95)
Dari
Abdullah bin Mas'ud dia berkata, "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
telah menyampaikan kepada kami, sedangkan dia adalah orang yang benar dan
dibenarkan.
إِنَّ
أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ
يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً
مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ
بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ
سَعِيدٌ (رواه البخاري، رقم 3036 ومسلم، رقم 2643)
"Sesungguhnya
salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya
selama empatpuluh hari, kemudian selama waktu itu juga dia menjadi setetes
mani, kemudian selama itu pula dia menjadi segumpal daging. Kemudian diutus
malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menetapkan
empat perkara; Mencatat rizinya, ajalnya, amalnya, celaka atau bahagianya."
(HR. Bukhari, no. 3036, Muslim, no. 2643)
Syekh Muhammad bin
Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, "Yang dimaksud dengan 'rizkinya'
disini adalah, 'Apa yang dapat dimanfaatkan manusia. Dia ada dua macam;
Rizki yang dengannya fisik dapat tegak, dan rizki yang dengannya agama dapat
tegak.
Rizki terkait dengan fisik adalah makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal,
kendaraan dan semacamnya. Sedangkan rizki terkait dengan agama adalah; Ilmu
dan iman. Kedua macam rizki inilah yang dimaksud dalam hadits ini. (Syarh
Al-Arbain An-Nawawiyah, hal. 101-102, cet. Penerbit Tsurayya)
Karena itu, pemberi rizki yang sesungguhnya adalah Allah semata, tidak ada
sekutu baginya. Allah telah berdalil dengan rizki yang telah Dia berikan
kepada para hambanya untuk membantah kesyirikan dan menyatakan kebodohan
orang-orang musyrik.
Firman-Nya.
( يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ
اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (سورة فاطر: 3)
"Hai manusia,
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat
memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain
dia; Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?" (QS. Fathir: 3)
Keempat:
Kami tutup jawaban
kami dengan ungkapan yang utuh dan indah dalam masalah ini. DR. Abdullah
Ad-Darraz rahimahullah berkata, 'Bacalah firman Allah Ta'ala,
وَاللَّهُ
يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (سورة البقرة: 212)
"Dan
Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas."
(QS. Al-Baqarah: 212)
Perhatikanlah, adakah ucapan yang lebih jelas dari ini dalam pandangan akal
manusia. Perhatikan pula, betapa kalimat ini memiliki kelenturan.
Karena, jika anda mengatakan bahwa maknanya adalah;
1-
Allah Ta'ala memberi rizki kepada orang yang Dia kehendaki
tanpa ada pihak yang memperhitungkannya dan menanyakannya, mengapa Dia
membentangkan rizki kepada sebagian orang dan mempersempitnya kepada
sebagian orang; Anda benar.
2-
Seandainya anda mengatakan, 'Dia memberi rizki kepada orang
yang Dia kehendaki tanpa rasa bakhil dan tanpa memperhitungkan hartanya yang
dikeluarkannya karena khawatir akan habis; Anda benar.
3-
Seandainya anda mengatakan bahwa Dia memberi rizki kepada
orang yang dia kehendaki tanpa ditunggu dan diduga; Anda benar.
4-
Seandainya anda mengatakan bahwa Dia memberi rizki kepada
hambanya tanpa mencerca atau memperdebatkan amal perbuatannya; Anda benar.
5-
Seandainya anda mengatakan bahwa Dia memberikan rizki yang
banyak, tidak terhingga dan tidak terhitung; Anda benar.
Pemahaman pertama, pembicaraan mengenai ketetapan kaidah rizki di dunia,
bahwa mekanismenya tidak ditentukan berdasarkan apa yang terdapat pada pihak
yang diberi rizki dari sisi hak karena ilmu atau amalnya. Akan tetapi
ditetapkan berdasarkan kehendak dan hikmah-Nya dalam memberikan ujian. Di
antaranya berupa hiburan bagi kaum fakir di kalangan orang beriman dan
pelajaran bagi jiwa-jiwa terpedaya dari kalangan orang berfoya-foya.
Sedangkan pemahaman kedua adalah sebagai peringatan tentang luasnya
perbendaharaan Allah Ta'ala dan bahwa Dia selalu membentangkan tangan-Nya.
Pemahaman ketiga merupakan isyarat bagi orang beriman bahwa akan dibukakan
bagi mereka pintu pertolongan dan kemenangan dan mengganti kesulitan dengan
kemudahan, mengganti kefakiran dengan kekayaan tanpa mereka perkirakan
sebelumnya.
Pemahaman keempat dan kelima merupakan janji bagi orang-orang saleh, apakah
dengan memasukkan mereka ke dalam surga tanpa hisab atau dengan
melipatgandakan pahala mereka menjadi sangat banyak yang tidak terhingga.
Siapa yang memperhatikan penafsiran ini dan mengamati berdasarkan pemahaman
para ulama tentang ayat ini, maka dia akan menyaksikan sesuatu yang sangat
menakjubkan." (An-Naba Al-Adzim, hal. 147-149)
Wallahua'lam.