Alhamdulillah
Shalat Id bagi
wanita hukumnya sunnah bukan wajib. Dia boleh shalat di tanah lapang tempat
shalat bersama umat Islam. Karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam
memerintahkan hal itu.
Dalam kitab
Ash-Shahihain dan lainnya dari Ummu Atiyah radhiallahu anha, dia berkata,
أُمِرنَا
- وفي رواية أمَرَنا ؛ تعني النبي صلى الله عليه وسلم - أن نخرج في العيدين
العواتق وذوات الخدور ، وأمر الحيض أن يعتزلن مصلى المسلمين (رواه البخاري
1/93 ومسلم (890)
، وفي رواية أخرى) أمرنا أن نخرج ونخرج العواتق وذوات الخدور.
"Kami diperintahkan
–dalam redaksi lain memerintahkan kepada kami – yakni Rasulullah sallallahu
alaihi wa sallam untuk mengajak keluar pada dua hari raya para wanita balig
dan para perawan. Beliau juga memerintahkan agar wanita haid dipisahkan dari
tempat shalat kaum muslimin." (HR. Bukhari, 1/93. Dan Muslim, 890. Dalam
redaksi lain, ‘Kami diperintahkan untuk keluar dan mengeluarkan para wanita
balig dan para perawan)
Dalam redaksi
Tirmizi,
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يُخرج الأبكار والعواتق
وذوات الخدور والحيض في العيدين ، فأما الحيض فيعتزلن المصلى ويشهدن دعوة
المسلمين، قالت إحداهن : يا رسول الله ، إن لم يكن لها جلباب ، قال : فلتعرها
أختها من جلابيبها (متفق عليه)
"Sesungguhnya
Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dahulu mengeluarkan para perawan,
para wanita balig, wanita pingitan dan orang haid (menghadiri shalat) dua
hari raya. Sementara wanita haid dipisahkan dari tempat shalat. Agar mereka
menyaksikan doa umat islam." Salah seorang diantara kami mengatakan, "Wahai
Rasulullah, bagaimana kalau ada yang tidak mempunyai jilbab?" Beliau
menjawab, "Hendaknya saudarinya meminjamkan jilabnya." (Muttafaq alaihi)
Dalam redaksi
Nasa’i, Hafshah binti Sirin berkata, "Dahulu Ummu Athiyah tidak menyebutkan
Rasulullah sallallahu alaihi wa salam kecuali mengatakan, "Dengan nama
ayahku." Maka saya bertanya, "Apakah anda mendengar Rasulullah
sallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan ini dan ini?" Beliau menjawab, "Ya,
dengan nama ayahku, (beliau bersabda), ‘Para wanita baligh, para perawan dan
wanita haid hendaknya keluar untuk menyaksikan shalat Id dan doa umat Islam.
Dan hendaknya wanita haid dipisahkan dari tempat shalat." (HR. Bukhari,
1/84)
Dari (penjelasan)
tadi, jelas bahwa keluarnya para wanita untuk shalat dua hari raya adalah
sunnah muakkad. Akan tetapi disyaratkan ketika keluar dalam kondisi tertutup
bukan bersolek sebagaimana diketahui hal itu berdasarkan dalil lain. Adapun
keluarnya remaja yang menjelang dewasa untuk shalat Id, shalat Jum’at dan
lainnya untuk shalat adalah bagus dan dianjurkan berdasarkan banyak dalil
tentang hal itu."
Wabillahit taufik.
Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/284-286.