Al-Hamdulillah. Tawassul secara bahasa artinya mendekatkan diri.
Di antaranya dalam firman Allah:
"
dan memohon wasilah untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka."
Tawassul dibagi menjadi dua: Tawassul yang disyariatkan, dan tawassul yang
dilarang.
Tawassul yang disyariatkan yaitu:
Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang Dia cintai dan Dia ridhai
berupa ibadah-ibadah yang wajib dan sunnah, baik berupa ucapan, perbuatan
atau keyakinan.
Bentuknya bisa bermacam-macam:
Pertama:Ber-tawassul kepada Allah dengan Asma dan Shifat-Nya.
Allah berfirman:
"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang
dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat
balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al-A'raaf :
180)
Caranya, seorang hamba ketika berdoa kepada Allah, terlebih dahulu menyebutkan
nama-Nya yang sesuai dengan permintaannya; seperti menyebutkan nama Yang Maha
Pengasih (Ar-Rahmaan), ketika ia meminta belas kasihan; atau menyebut nama
Yang Maha Pengampun (Ghafuur), ketika memohon ampunan, dan sejenisnya.
Yang kedua: Bertawassul kepada Allah dengan iman dan tauhid.
Allah berfirman:
"Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan
dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan
orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah). " (QS. Ali
Imraan : 53)
Yang ketiga: Bertawassul dengan amal shalih.
Yakni dengan cara seorang hamba memohon kepada Rabb melalui amalan paling
ikhlas yang pernah dia lakukan, yang bisa diharapkan, seperti shalat, puasa
atau membaca Al-Qur'an, atau kesuciannya dalam menjaga diri dari maksiat dan
sejenisnya. Di antaranya seperti yang disebutkan dalam hadits Al-Bukhari dan
Muslim tentang kisah tiga orang yang masuk gua, tiba-tiba pintu gua tertutup
oleh batu besar. Lalu mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amalan-amalan
mereka yang paling diharapkan pahalanya.
Termasuk di antaranya bila seorang hamba bertawassul kepada Allah dengan
kefakirannya, sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Ayyub 'Alaihissalam:
"Inni Massaniadh-Dhurru wa Anta Arhamurrahimin."
(Sesungguhnya aku telah mengalami kesengsaraan dan Engkau adalah Yang Maha
Pengasih dari segala yang pengasih..)
Atau dengan pengakuan seorang hamba terhadap kezhalimannya dan kebutuhan
dirinya terhadap Allah sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Yunus:
"Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minazh zhalimin."
(Tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Engkau; Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim..)
Tawassul-tawassul yang disyariatkan inipun berbeda-beda hukumnya yang satu
dengan yang lainnya. Ada yang wajib, seperti tawassul dengan menyebutkan nama
dan sifat Allah atau dengan tauhid. Ada juga yang disunnahkan, seperti tawassul
dengan menyebutkan amal shalih.
Adapun tawassul yang dilarang dan bid'ah itu adalah:
Bertawassul kepada Allah dengan hal-hal yang tidak disukai dan tidak diridhainya,
berupa ucapan, perbuatan dan keyakinan. Di antaranya tawassul dengan berdoa
kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir, memohon keselamatan
dengan perantaraan mereka, dan sejenisnya. Semua perbuatan itu adalah syirik
besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam dan bertentangan dengan tauhid.
Berdoa kepada Allah, baik dalam bentuk doa permohonan seperti meminta sesuatu
dan meminta diselamatkan dari bahaya: atau doa ibadah seperti rasa tunduk
dan pasrah di hadapan Allah, kesemuanya itu tidak boleh dialamatkan kepada
selain Allah. Memalingkannya dari Allah adalah syirik dalam berdoa. Allah
berfirman:
"Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku
akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina
" (QS. Al-Mukmin
: 60)
Allah menjelaskan dalam ayat di atas ganjaran bagi orang yang enggan berdoa
kepada-Nya, bisa jadi dengan berdoa kepada selain-Nya atau dengan tidak mau
berdoa kepada-Nya secara global dan rinci, karena takkbur atau sikap ujub,
meski tak sampai berdoa kepada selain-Nya. Allah juga berfirman:
"Berdoalah kepada Allah dengan rasa tunduk dan suara perlahan.."
Dalam ayat ini Allah memerintahkan berdoa kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
Allah berfirman menceritakan ucapan Ahli Neraka:
"Demi Allah, sungguh kami dahulu (di dunia) berada dalam kesesatan
yang nyata; tatkala kami menyamakan kalian dengan Rabb sekalian makhluk."
Segala bentuk penyamaan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan ketaatan,
maka itu adalah perbuatan syirik terhadap-Nya. Allah berfirman:
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan
selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat
dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. " (QS. Al-Ahqaaf
: 5)
"Dan barangsiapa yang menyeru sesembahan selain Allah, sesungguhnya
perhitungannya di sisi Rabb-nya, sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang
yang kafir."
Allah menganggap orang yang berdoa kepada selain-Nya, berarti telah mengambil
sesembahan selain-Nya pula. Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada
mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan
permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan
tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan
oleh Yang Maha Mengetahui.(QS. Faatir : 13-14)
Allah menjelaskan dalam ayat ini, bahwa Dia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu
mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Bahwasanya para sesembahan itu
tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun
dimisalkan mereka dapat mendengar, merekapun tidak akan mampu mengabulkannya,
karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau memberi
mudharrat, dan tidak memiliki kemampuan atas hal itu.
Sesungguhnya kaum musyrikin Arab di mana Rasulullah Shallalhu 'Alaihi Wassalam
diutus, mereka menjadi orang-orang kafir karena kemusyrikan mereka dalam berdoa.
Karena mereka juga berdoa kepada Allah dengan tulus ketika mendapatkan kesulitan.
Kemudian mereka menjadi kafir kepada Allah di kala senang dan mendapatkan
kenikmatan dengan cara berdoa kepada selain-Nya. Allah berfirman:
"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa
yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan,
kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih."
Allah juga berfirman:
"Sehingga apabila kamu
berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang
ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya,
datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya,
dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa
kepada Allah dengan mengikhlaskan keta'atannya".
(QS.Yunus : 22)
Kemusyrikan sebagian orang pada masa sekarang ini bahkan sudah melampaui
kemusyrikan orang-orang terdahulu. Karena mereka memalingkan berbagai bentuk
ibadah kepada selain Allah seperti doa, meminta keselamatan dan sejenisnya
hingga pada saat terjepit sekalipun. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Kita memohon keselamatan dan keberuntungan kepada Allah.
Kesimpulan : untuk membantah yang dituturkan oleh teman Anda itu bahwa meminta
sesuatu kepada mayyit adalah syirik. Bahkan meminta kepada orang hidup dalam
batas yang hanya mampu dilakukan olehnya-pun juga termasuk syirik. Wallahu
A'lam.