Alhamdulillah
Mengenal Asmaul
Husna memiliki urgensi yang besar, sebagai berikut:
1- Mengenal Allah
melalui nama dan sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia dan agung secara
mutlak. Karena kemuliaan ilmu terkait dengan kemuliaan yang diketahui. Yang
diketahui dalam masalah ini adalah Allah Ta'ala beserta nama-nama,
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Menyibukkan diri untuk memahami
ilmu ini, mengkajinya secara sempurna merupakan kesibukan untuk meraih
sesuatu yang sangat tinggi dan pencapaian seorang hamba dalam masalah ini
merupakan pemberian paling mulia. Karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam menjelaskannya sungguh-sungguh dan karena perhatian beliau yang
besar dalam masalah ini, para shahabat tidak berbeda pendapat dalam masalah
ini sebagaimana mereka berbeda pendapat dalam masalah hukum.
2- Mengenal Allah akan mendorong
kita untuk mencintai dan takut kepada-Nya, berharap serta ikhlas dalam
beramal kepada-Nya. Ini merupakan inti kebahagiaan seorang hamba. Tidak ada
jalan untuk mengenal Allah selain mengenal nama-nama-Nya yang mulia dan
memahami makna yang terkandung di dalamnya.
3- Mengenal Allah Ta'ala melalui
nama-nama-Nya yang mulia dapat menambah keimanan. Sebagaiman dikatakan oleh
Syekh Abdurrahman bin Sa'dy rahimahullah, "Sesungguhnya iman terhadap
nama-nama Allah yang mulia dan memahaminya mengandung macam tauhid yang
tiga; Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Sifat. Ketiga
macam tauhid ini merupakan ruh keimanan, penyejuk hati, asal dan tujuannya.
Semakin bertambah pemahaman seorang hamba terhadap nama-nama dan sifat-sifat
Allah, bertambah pula keimanannya dan akan semakin kuat keyakinannya."
(At-Tauhdhih wal Bayan Li Syajaratil Iman, oleh As-Sa'dy, hal. 41)
4- Sesungguhnya Allah menciptakan makhluknya agar mereka mengenal-Nya dan
menyembah-Nya. Inilah tujuan yang dituntut. Karena, sebagaimana dikatakan
oleh Ibnu Qayim rahimahullah, "Kunci dakwah para rasul dan inti risalah
mereka adalah mengenal yang disembah melalui nama-nama dan sifat-sifat serta
perbuatan-perbuatan-Nya.
Karena dengan
pengenalan tersebut akan terbangun seluruh tuntutan risalah dari awal hingga
akhir." (Ash-Shawa'iq Al-Mursalah Alal Jahmiah wal Mu'atholah, Ibnu Qayim,
1/150-151)
Menyibukkan diri
untuk mengenal Allah, adalah menyibukkan dengan sesuatu yang dengan alsan
itu makhluk diciptakan. Mengabaikannya dan meninggalkannya adalah bentuk
penyelewangan terhadap tujuan penciptaannya. Akan tetapi yang dimaksud iman
bukan sekedar mengucapknnya saja tanpa mengenal Allah, karena hakikat iman
kepada Allah adalah pengenalan seorang hamba kepada Tuhannya yang dia imani
dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengenal Allah melalui nama-nama
dan sifat-sifat-Nya. Seberapa besar dia mengenal Tuhannya, sebesar itu pula
akan bertambah imannya.
5- Mengetahui
nama-nama Allah yang mulia merupakan landasan ilmu atas segala sesuatu yang
diketahui. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayim rahimahullah, "Sesungguhnya ilmu
terhadap nama-nama Allah yang mulia merupakan pokok ilmu atas segala sesuatu
yang diketahui. Karena segala sesuatu yang diketahui selain-Nya, apakah dia
merupakan ciptaan-Nya atau merupakan perintah-Nya, apakah ilmu terhadap apa
yang Dia ciptakan atau ilmu terhadap apa yang Dia syariatakn.
Sumber penciptaan dan perintah
adalah nama-nama Allah yang mulia.
Keduan terkait satu
sama lain sesuai kandungan yang terdapat di dalamnya. Ihsha (mengenal,
beriman dan menjalankan) terhadap Asmaul Husan merupakan asal penghitungan
atas segala sesuatu yang diketahui. Karena semua yang diketahui terkait
dengannya." .
Bada'iul Fawaid, Ibnu Qayim, 1/163, dari Kitab "Asmaullahil Husna, hal. 806