Alhamdulillah
Allah Ta’ala berfirman:
( وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا
أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْلَمُونَ . أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ
الْعَامِلِينَ) آل عمران: 135, 136.
“Dan (juga)
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka
itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya
mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah
sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” SQ. Ali Imron: 135-136.
Ibnu Katsir rahimahullah
berkomentar: “FimanNya ‘Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui.’ Yakni mereka bertaubat dari dosanya dan kembali
kepada Allah dalam waktu dekat dan tidak melanjutkan kemaksiatan dan
senantiasa melepaskannya. Meskipun dosanya terulang dan mereka bertaubat
(kembali).’ Tafsir Ibnu Katsir, 1/408.
عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول : ( إِنَّ عَبْدًا أَصَابَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ
أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ وَرُبَّمَا قَالَ أَصَبْتُ
فَاغْفِرْ لِي فَقَالَ رَبُّهُ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ
الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ
ثُمَّ أَصَابَ ذَنْبًا أَوْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ رَبِّ أَذْنَبْتُ أَوْ
أَصَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ فَقَالَ أَعَلِمَ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا
يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ لِعَبْدِي ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ
اللَّهُ ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَرُبَّمَا قَالَ أَصَابَ ذَنْبًا قَالَ قَالَ
رَبِّ أَصَبْتُ أَوْ قَالَ أَذْنَبْتُ آخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي فَقَالَ أَعَلِمَ
عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ غَفَرْتُ
لِعَبْدِي ثَلاثًا ....الحديث
)
رواه البخاري (7507) ومسلم ( 2758
“Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata,
saya mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba berdosa terkadang mengucapkan terjerumus dalam
dosa maka dia mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, saya berdosa. Terkadang
mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya mengatakan,
Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa dan
dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu yang
tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa, maka dia
mengatakan, ‘Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku. Tuhannya
mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa
dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu
yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa,
mengatakan, ‘Saya terkena (dosa) lagi. Maka ampunilah daku. Tuhannya
mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa
dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Kemudian diam masyaallah (waktu
yang tidak diketahui) kamudian ditimpa dosa atau terjerumus dalam dosa,
Terkadang mengatakan, ‘Saya terkena (dosa). Maka ampunilah daku. Tuhannya
mengatakan, Apakah hambaKu mengetahui kalau punya Tuhan yang mengampuni dosa
dan dibawanya. Maka saya ampuni hambaKu. Tiga kali.. Al-Hadits. HR. Bukhori,
7507 dan Muslim, 2758.
An-Nawawi rahimahullah membuat bab untuk
hadits ini dengan mengatakan ‘Bab Diterima Taubat Dari Dosa-dosa, Meskipun
Dosa-dosa dan Taubat terulang-ulang’.
Beliau mengatakan dalam penjelasannya,
‘Permasalahan ini telah (dijelaskan) pada permulaan kitab Taubah, hadits ini
nampak dari sisi dalalahnya, bahwa meskipun dosa terulang seratus, seribu
kalau atau lebih dan bertaubat setiap kali. Maka taubatnya diterima, gugur
dosanya. Kalau dia bertaubat dari semua (dosa) dengan bertaubat sekali
setalah semua (dosa0) maka taubatnya sah.’ Syarkh Muslim, 17/75.
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah berkata,
‘Umar bin Abdul Azizi berkata, ‘Wahai manusia barangsiapa yang berkubang
dalam dosa, maka beristigfarlah kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali
(berdosa), maka memohonlah ampun kepada Allah dan bertaubat. Kalau kembali
lagi, hendaknya beristigfar dan bertaubat. Karena sesungguhnya ia adalah
kesalahan-kesalahan dibelitkan di pundak seseorang. Sesungguhnya kebinasaan
ketika terus menerus (melakukannya).
Makna ini adalah bahwa seorang hamba
seharusnya melakukan apa yang telah ditentukan dosa kepadanya. Sebagaimana
sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam:
كُتب على ابن آدم حظه من الزنا فهو مدرك ذلك لا محالة
“Ditetapkan kepada Bani Adam bagiannya dari
zina, dia mendapatkan hal itu tidak dapat disangkalnya.’
Akan tetapi Allah menjadikan seorang hamba
jalan keluar dari dosa. Dihapus dengan taubat dan istigfar. Kalau
dilaksanakan, maka akan terlepas dari kejelekan dosa. Kalau terus menerus
melakukan dosa (tanpa bertaubat) maka dia akan hancur.’ ‘Jami’ Ulum Wal
Hikam,, 1/165.
Sebagaimana Allah Ta’ala marah dengan
kemaksiatan dan diancam dengan dosa. Karesa sesungguhnya (Allah) tidak
menyukai hamba-Nya yang putus asa dari Rahmat-Nya Azza Wajalla. Dia senang
orang yang bermaksiat meminta ampunan-Nya dan bertaubat kepadaNya. Syetan
berkeinginan kalau seseorang hamba jatuh dalam keputusasaan agar terhalangi
dari taubat dan kembali (kepada-Nya).
Dikatakan kepada Hasan Al-Basri, ‘Apakah
salah satu diantara kami tidak merasa malu dari Tuhan-Nya, memohon ampunan
dari dosa-dosanya kemudian diulangi lagi, beristigfar kemudian dialangi
lagi? Beliau mengatakan, ‘Syetan berharap kalau menang dari kamu semua
dengan ini, maka jangan bosa dengan istigfar. Silahkan melihat soal jawab
no. 9231.