Alhamdulillah.
Segala puji hanya milik Allah
semata,
Iblis – semoga Allah
melaknatnya – adalah dari jenis jin. Tidak pernah sehari pun dia pernah
menjadi malaikat, bahkan walau sekejap matapun. Karena Malaikat adalah
makluk mulia, tidak pernah berbuat maksiat dan senantiasa mengerjakan apa
yang diperintahkan oleh Allah. Banyak sekali ayat-ayat suci Al-Qur'an yang
menerangkan secara jelas bahwa Iblis adalah dari jenis Jin bukan dari jenis
Malaikat.
Di antaranya adalah;
1- firman Allah Ta'ala:
(
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآِدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ
وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ
لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً ) الكهف
/ 50 .
Dan (ingatlah) ketika Kami
(Allah) berfirman kepada para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!! Maka
sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia
mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan
turunan-turunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedang mereka adalah
musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim. (QS. Al-Kahfi: 50)
2. Allah telah menjelaskan
bahwa jin diciptakan dari api.
Dia berfirman:
"Dan Kami (Allah) ciptakan Jin
sebelum (Adam) dari Api yang sangat panas " (QS. Al-Hijr: 27).
Allah juga berfirman:
"Dan Dia menciptakan Jin dari
nyala api " (QS, Ar-Rahman: 15)
Dalam hadits shahih dari Aisyah
rodhiallahu 'anha, dia berkata: Rasulullah sallallahu'alaihi wasallam
bersabda:
"Malaikat diciptakan dari
cahaya, jin diciptakan dari api dan Adam diciptakan sebagaimana telah
dijelaskan kepada kalian (dari tanah)"
(HR. Muslim dalam shahihnya,
no. 2996, Ahmad no. 24668, Baihaqi di Sunan Kubro, no. 18207, dan Ibnu
Hibban, no. 6155)
Maka di antara sifat Malaikat
adalah diciptakan dari cahaya, sementara jin diciptakan dari api. Ayat-ayat
Alqur'an telah menjelaskan bahwa Iblis –semoga Allah melaknatnya– diciptakan
dari api. Di antaranya terungkap dari jawaban Iblis sendiri ketika Allah
bertanya kepadanya sebab pembangkangannya untuk bersujud kepada Adam ketika
diperintahkan untuk bersujud kepadanya. Dia (Iblis) berkata:
"Saya lebih baik dari dari dia
(Adam), saya diciptakan dari api sementara dia diciptakan dari tanah" (QS.
Al-A'raf: 12)
Dari ayat ini menunjukkan bahwa
Iblis adalah dari jenis Jin
3. Allah telah
mensifati Malaikat dalam Al-Qur’an Karim dalam firman-Nya: “Wahai
Orang-orang yang beriman, jagalah diri kamu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Di
dalamnya ada para malaikat yang sangat keras, tidak pernah berbuat
kemaksiatan terhadap perintah Allah dan senantiasa melaksanakan apa yang
diperintahkannya" (QS. At-Tahrim: 6)
Di ayat lain Allah juga
berfirman: “Sebenarnya (Malaikat) adalah hamba yang dimuliakan, mereka tidak
mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan
perintah-perintah-Nya" (QS. Al-Anbiya: 26–27)
Firman yang lainnya: “Dan hanya
kepada Allah apa-apa yang ada di langit, di bumi dari jenis binatang dan
Malaikat, mereka bersujud dalam kondisi tidak sombong. Mereka takut kepada
Tuhan-Nya yang di atas dan mengerjakan apa yang diperintahkan“ (QS. An-Nahl:
49 – 50)
Oleh karena itu tidak mungkin
para Malaikat itu berbuat maksiat kepada Tuhannya sementara mereka maksum
(terjaga) dari kesalahan dan mempunyai karakter berbuat ketaatan.
4. sementara Iblis bukan dari
jenis Malaikat, sesungguhnya dia juga tidak dipaksa untuk taat, akan tetapi
dia mempunyai pilihan sebagaimana kita kalangan manusia juga diberi pilihan.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami (Allah) telah memberikan jalan, apakah
dia bersyukur atau dia kufur".
Maka dari kalangan jin pun ada
yang kafir dan ada yang muslim, sebagaimana Allah berfirman dalam surat
Al-Jin:
“Katakanlah, diwahyukan
kepadaku, bahwa ada segolongan jin mendengarkan (Al-Qur’an) kemudian mereka
berkata: “Sesungguhnya kami mendengarkan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan.
Yang memberikan petunjuk kepada kebagusan sehingga kami beriman kepadanya
dan tidak menyekutukan terhadap Tuhan kami sedikitpun juga“ (QS. Al-Jin: 1
-2)
Dan dalam surat yang sama jin
juga berkata: “Dan sesungguhnya ketika kami mendengarkan petunjuk
(Al-Qur’an) maka kami beriman. Dan barangsiapa yang beriman maka dia tidak
takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut juga) akan penambahan dosa
dan kesalahan. Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada juga
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran…"
Ibnu Katsir dalam tafsirnya
berkata: “Hasan Al-Bashri berkata, 'Iblis tidak pernah menjadi malaikat
sekejap pun jua. Sesungguhnya dia dari jenis Jin, sebagaimana Adam adalah
asal manusia“ (Diriwayatkan oleh At-Thobari dengan sanad yang shahih. Lihat
Juz: 3 / 89)
Sebagian ulama’ ada yang
berpendapat bahwa Iblis merupakan golongan malaikat. Dia disebut-sebut
sebagai burung meraknya malaikat, disebut pula sebagai malaikat yang paling
rajin beribadah, dan ungkapan-ungkapan lain yang kebanyakan bersumber dari
riwayat israiliyat. Di antaranya bertentangan dengan nash-nash yang jelas di
Al-Qur’anul Karim.
Ibnu katsir memaparkan lebih
jelas lagi tentang hal tersebut, berliau berkata: “Banyak atsar yang
diriwayatkan berkaitan dengan masalah ini dari ulama’ salaf. Akan tetapi
kebanyakan bersumber dari riwayat Israiliyat –yang hanya dinukil untuk
dilihat saja–. Hanya Allah saja yang mengetahui kondisi kebanyakan riwayat
tersebut. Di antaranya juga ada riwayat yang jelas kebohongannya karena
menyalahi kebenaran yang telah kita ketahui. Sementara berita yang terdapat
dalam Al-Qur’an sudah sangat cukup dibanding berita-berita masa lalu yang
sering tidak lepas dari adanya penggantian, penambahan atau pengurangan,
bahkan banyak cerita yang dibuat-buat. Padahal mereka (umat terdahulu)
tidak memiliki ulama’ pakar dan spesialis yang dapat membersihkan
cerita-cerita tersebut dari penyelewengan orang-orang berlebihan dan dari
tambahan orang-orang yang berbuat kebatilan. Sebagaimana dalam umat ini
(umat Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam) terdapat para ulama terbaik,
para pakar yang sangat kredibel dan bertakwa serta ahli dalam melakukan
kritik riwayat yang telah membukukan hadits dan memilah-milahnya dan
menyeleksi mana hadits yang shahih, hasan, lemah, matruk (ditinggalkan) atau
maudhu' (palsu). Mereka pun menerangkan siapa para pemalsu hadits,
orang-orang yang dituduh pendusta serta yang tidak dikenal jatidirinya, dan
ciri-ciri lainnya dari para perawi, sebagai upaya untuk menjaga kedudukan
Nabi Muhammad sallallahu’alaih wasallam yang sangat mulia, pemimpin umat
manusia, dari riwayat-riwayat dusta yang disematkan kepada beliau atau
dikatakan dari beliau. Semoga Allah meridhai mereka dan menjadikan surga
Firdaus menjadi tempat mereka." (Tafsir Al-Qur'anul Adzim, juz 3/90)
Wallahu ta'ala a'lam.