Kami telah ajukan peryanyaan ini kepada Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman Al-Baraak,
lalu beliau menjawab sebagai berikut :
Segala puji bagi Allah Yang Tinggi dan Agung dan Maha Suci Allah Yang Agung,
dan tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan Allah Maha Besar. Dan
shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu 'Alaihi
Wassalam kepada keluarga dan para sahabatnya. Adapun setelah itu, maka termasuk
hal yang wajib diimani adalah bahwa Allah Ta'ala Maha Tinggi Yang Paling Tinggi,
dan sesungguhnya Dia ber-istiwa' di atas Arsy sebagaimana Dia sendiri telah
mengabarkan hal itu di dalam kitab-Nya, maka Dia di atas segala sesuatu. Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi Wassalam di dalam salah satu doanya berkata:
"Engkau adalah Adh Dhahir tidak ada sesuatupun di atas-Mu."
Demikian pula wajib beriman bahwa Dia Maha Tinggi dan Maha Besar, dan Dia
lebih besar dari segala sesuatu, Diapun Maha Agung yang tidak ada yang lebih
agung daripada-Nya. Dan di antara kesempurnaan keagungan-Nya dan kekuasaan-Nya,
bahwa Dia mengambil langit dan bumi dengan kedua tangan-Nya pada hari kiamat,
sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
"Dan tidaklah mereka mengagungkan Allah dengan sebenarnya, padahal
bumi semuanya dipegang pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan
kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka sekutukan."
Maka wajib diketahui bahwa sesungguhnya Dia Yang Maha Tinggi dengan kesempurnaan
ketinggian-Nya dan kesempurnaan keagungan-Nya tidak memungkinkan untuk menetap
di sesuatupun dari makhluk-Nya. Maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah Ta'ala
berada di surga, tetapi Dia di atas Arsy yang merupakan atap Firdaus, sedangkan
Firdaus adalah surga yang paling tinggi. Rasul Shalallahu 'Alaihi Wassalam
bersabda:
"Kalau kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah Firdaus,
karena sesungguhnya dia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah,
dan atapnya adalah Arsy Allah Yang Rahman."
Tidak boleh bagi seorang muslim berfikir tentang dzat Allah atau membayangkan
keagungan-Nya karena akal manusia itu lemah untuk mengetahui hakikat dzat
dan sifat Allah serta keadaan-Nya, sebagaimana perkataan Imam Malik ketika
ditanya tentang keadaan istiwa'-nya Allah di atas Arsy: "Istiwa itu maklum
(diketahui), adapun caranya majhul (Tidak diketahui), sedangkan beriman tentang
hal itu (bahwa Allah istiwa-pent). Wajib, dan bertanya tentang hal itu adalah
bid'ah."